Memandang Berita Hoaks di Korea, Begini Kata Jurnalis Korsel

News  
Jurnalis Hankook Ilbo Media Group, Jaeyeon Moon dalam workshop FPCI dan Korean Foundation dengan peserta Indonesia next journalist network on Korea. Dok: FPCI
Jurnalis Hankook Ilbo Media Group, Jaeyeon Moon dalam workshop FPCI dan Korean Foundation dengan peserta Indonesia next journalist network on Korea. Dok: FPCI

안녕하세여, 친구들 (Annyeonghaseyo, chingudeul)...

Informasi dan berita kini sangat mudah didapatkan melalui berbagai media, mulai dari media tradisional, konvensional hingga platform media sosial. Berita-berita yang bermunculan didapatkan berdasarkan fakta sebenarnya dan terkadan ada pelintiran hingga tercipta berita bohong atau hoaks.

Kendati demikian, di Korea Selatan (Korsel), berita hoaks jarang mengemuka. Jurnalis Hankook Ilbo Media Group, Jaeyeon Moon mengatakan, masyarakat Korsel merasakan polarisasi politik pada media di Negeri Gingseng.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

"Media Korea kini mulai terpolarisasi secara politis, tapi saya tidak tahu apakah kita bisa mengatakan perspektif seperti itu sebagai berita palsu atau hoaks," ujar Jurnalis Hankook Ilbo Media Group, Jaeyeon Moon dalam workshop bertajuk "Connecting Cultures: Unveiling the Power of South Korea's Public Diplomacy in Strengthening Seoul-Jakarta People-to-People Relations" yang digelar Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) bekerja sama dengan Korea Foundation, beberapa waktu lalu.

Moon mengatakan, perusahaan media di Korsel begitu banyak, seperti media online, media surat kabar, dan media penyiaran. Menurut dia, laporan berita di Korsel kerap menunjukkan berita yang lebih provokatif dan sensitif menilik laporan berita dari berita utama.

"Ada begitu banyak media sehingga banyak orang yang kebanjiran informasi, tetapi mereka mengalami kesulitan dalam menceritakan dan kapan menguji, memantau informasi mereka, dan menelannya dengan cara yang lebih produktif bagi mereka," tuturnya.

Media dan Hiburan Korsel

Moon mengungkapkan media di Korsel juga sangat berperan bagi industri hiburannya. Meski, Korea dalam perjalanannya mengandalkan industri manufaktur, bukan hiburan sebagai yang utama. Sebab, presentasi hiburan di Korsel hanya sekitar 0,2 persen dari PDB negara.

"Misalnya, karena kita memasuki bisnis hiburan, memelihara citra Korea yang membuat Korea menjual bisnis manufakturnya atau lebih tepatnya, ada bintang pop seperti BTS tampil untuk iklan penyaluran mobil atau ponsel Samsung, membuat orang lebih banyak meluncur karir di bisnis manufaktur," katanya.

"Jadi itu sebabnya mereka (industri hiburan) sangat kreatif dan keren. Jadi meskipun persentasenya cukup rendah, mereka tetap berpengaruh dalam hal pasar," ujarnya menambahkan.

Dalam hal ini, era digital mengubah cara kerja dan sosialisasi masyarakatnya. Bahkan, krisis generasi muda di negeri yang dipimpin Yoon Suk Yeol membuat masyarakat Korea bertransformasi menjadi digital society. Semakin banyak teknologi Artificial Intelligence (AI) dimanfaatkan oleh industri manufaktur. Meski begitu, tetap saja, masih banyak sektor yang membutuhkan sentuhan manusia.

"Saya berharap Korea dan Indonesia bisa mempererat relasi diplomatik mereka lewat pertukaran pekerja untuk program vokasi. Kerja sama ini bisa menjadi solusi yang sama-sama menguntungkan untuk kedua negara," katanya.

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

[email protected] (Marketing)

× Image